href="http://www.widgeo.net">widgeo.net widgeo.net widgets basketball-0007.gif from 123gifs.eu

Follow Us

Minggu, 01 Juli 2012

Banyak Produser Musik Pop Sunda Tiarap

Oris Riswan Budiana - detikBandung
Bandung - Musik pop Sunda dinilai terus mengalami kemunduran dari segi penjualan CD atau VCD. Akibatnya banyak produser yang selama ini menggeluti bisnis di bidang musik pop Sunda tiarap.

"Sekarang banyak produser yang tiarap karena pasaran kita lesu, market RBT juga drop. Apalagi sekarang produk banyakan sangat banyak," ujar produser yang bergerak di bidang musik pop Sunda, Dose Hudaya.

Hal itu dikemukakan Dose dalam diskusi 'Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda' di Kantor Redaksi Galura, Jalan Belakang Factory, Kamis (28/6/2012).

Menurutnya, banyak produser yang menyerah karena musik pop sunda sedang mengalami penurunan dari segi penjualan. Tak hanya itu, distributor penyalur CD dan VCD musik pop sunda juga banyak yang gulung tikar.

"Bagaimana musik pop sunda bisa berkembang kalau tidak ada distributor yang menyalurkan," jelasnya.

Fenomena menurunnya bisnis di jalur musik pop Sunda terus mengalami penurunan sejak berkibar pada era 1990-an. Tahun 2000-an, tren musik pop Sunda tak lagi menggeliat.

Diakui Dose, saat ini banyak bermunculan penyanyi pop Sunda baru. Namun kemunculan mereka cenderung tidak diimbangi kualitas mumpuni sebagai penyanyi. Kemunculan mereka pun bukan berasal dari cetakan produser, melainkan personel alias membiayai sendiri seluruh biaya rekaman, pembuatan video klip hingga tayang di stasiun televisi.

"Yang bikin itu kebanyakan bukan produser, mereka ukurannya cuma punya duit buat rekaman, bikin video klip dan tayang. Orientasinya bukan bisnis, tapi asal nampang," tutur Dose.

Hal itu yang kemudian menyebabkan citra musik pop sunda dipandang tidak berkualitas dan berbuntut pada lesunya penjualan. Sebab para penyanyi yang nampang di televisi tak punya kualitas memadai untuk menjadi penyanyi.

Disinggung berapa produser yang bergerak di bidang musik pop Sunda saat ini, Dose tidak tahu pasti. "Tapi mungkin sekarang cuma saya saja yang eksis. Dan saya akan terus bergerak di jalur musik pop Sunda sampai kapanpun," tegasnya.

Soal menurunnya bisnis musik pop Sunda, ia menyebut salah satu parameternya yakni dari sisi penjualan album. "Sekarang laku 100 keping saja sudah bagus. Kalau dulu jauh lebih banyak dari itu," tandas Dose.

(ors/ern)


INDUSTRI KREATIF: Kembalikan Kejayaan Musik Pop Sunda

BANDUNG (bisnis-jabar.com) – Dalam rangka mempertanyakan eksistensi industri musik pop Sunda yang selama ini diklaim tengah redup, sejumlah artis, pengamat dan pelaku musik Sunda hadir dalam sebuah diskusi yang digelar di Kantor Redaksi Galura, Jl. Belakang Factory Bandung, Kamis (28/6)
Sebagai pembicara dalam diskusi yang bertajuk ‘Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda’ itu a.l Dose Hudaya (Produser), Rika Rafika (artis dan penyanyi pop Sunda) dan Indra Ridwan (Pengamat Musik Sunda).
Sejumlah musisi, artis dan budayawan Sunda tampak hadir mengikuti acara a.l. Nining Meida, Asep Darso, Yayan Jatnika, Aam Amilia dll.
Dalam diskusi yang berlangsung dari pukul 13:00-16:00 itu, Dose menuturkan bahwa industri musik pop saat ini terpuruk, pasalnya beberapa distributor musik pop sunda banyak yang bangkrut.
“Saat ini, sejumlah distributor musik pop sunda di Jawa Barat sudah pada tutup,” katanya.
Dia menjelaskan salah satu faktor utama yang menyebabkan bangkrutnya industri musik pop Sunda yaitu merebaknya pembajakan kaset dan CD (comapct disc).
Sementara itu, menurut Indra Ridwan, faktor penyebab redupnya musik pop Sunda di tanah air khususnya di Jawa Barat adalah munculnya teknologi canggih seperti Internet.
“Sekarang kan jaman modern, zaman canggih. Orang tinggal buka Youtube saja untuk mendengar atau melihat video [musik pop sunda],” katanya.
Menurut dia, dengan adanya kondisi seperti itu, semua pihak dari artis, distributor dan produser harus berperan aktif melahirkan inovasi yang dapat mendongkrak kembali penjualan musik pop Sunda.
“Untuk mengembalikan kembali kejayaan musik pop Sunda, semua pihak harus kreatif,” katanya.
Sementara itu, seperti dalam amatan bisnis-jabar, diskusi berlangsung hangat setelah moderator membuka sesi tanya jawab. Nining Meida sendiri yang tampak mengikuti diskusi sekaligus dikenal sebagai ikon penyanyi pop Sunda, masih terlihat cantik dengan wajah ber-makeup kemerahan. (k5/ajz)

Penjualan Menurun, Penggemar Musik Pop Sunda Justru Bertambah

Oris Riswan Budiana - detikBandung 
Bandung - Di tengah terpuruknya penjualan album musik pop Sunda, penggemar musik tersebut justru makin lama bertambah banyak. Hal itu dikemukakan pengamat musik pop Sunda Indra Permana.
"Kita lihat dari kemunculan pop Sunda sampai sekarang, belum pernah kehilangan penggemar, bahkan makin bertambah," kata Indra kepada wartawan usai menghadiri diskusi 'Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda' di Kantor Redaksi Galura, Jalan Belakang Factory, Kamis (28/6/2012).

Ia sendiri paham jika penjualan album musik pop Sunda turun drastis dibanding beberapa tahun lalu. Selain banyaknya produk bajakan, banyak penyanyi baru yang muncul tapi tidak berkualitas.

Menurutnya, penjualan album tidak berarti penggemar musik pop Sunda berkurang. Sebab meski penjualan album memble, penyanyi pop Sunda tetap laris diundang manggung dalam berbagai acara.

"Kalau bisnis lewat penjualan album menurun tapi penyanyinya banyak tawaran manggung, itu kan bisnis juga, dibayar juga," papar Indra.

Namun itu lebih banyak berlaku bagi para penyanyi pop Sunda yang berkualitas mumpuni dan punya tempat di hati masyarakat atau
penggemarnya.

Indra mengakui, perlu ada upaya dari berbagai pihak demi mengangkat kembali citra musik pop Sunda. "Perlu ada kreativitas dari pihak-pihak terkait," ucapnya.

Produser yang bergerak di bidang musik pop Sunda, Dose Hudaya, mengaku akan terus menghasilkan karya berkualitas. Selain kualitas penyanyi yang bagus, ia juga akan terus meningkatkan kualitas lainnya seperti kualitas rekaman hingga video klip.

"Saya akan berusaha meningkatkan kualitas dari berbagai sisi dan akan konsisten di jalur ini, karena saya cinta musik pop Sunda," paparnya.

Selama ini, Dose sendiri selalu berusaha menyuguhkan karya berkualitas. Selain lagu, video klip pun dibuat seapik mungkin dan
layak ditayangkan di televisi nasional, bukan asal jadi.

Dengan begitu, ia optimistis musik pop Sunda akan kembali mencapai kejayaan. "Mudah-mudahan badai segera berlalu," harap Dose.

(ors/ern)

Musisi Sunda Bahas Kondisi Musik Pop Sunda

Musisi pop Sunda menggelar diskusi bertajuk Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda yang digelar pada Kamis (28/6/2012), di Kantor Galura, Jalan Banceuy Kota Bandung. - inilah.com/Astri Agustina
Oleh: Astri Agustina
Jabar - Kamis, 28 Juni 2012 | 15:07 WIBINILAH.COM, Bandung - Musisi pop Sunda menggelar diskusi bertajuk Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda yang digelar pada Kamis (28/6/2012), di Kantor Galura, Jalan Banceuy Kota Bandung.

Diskusi ini dihadiri oleh H Dose Hudaya, Rika Rafika, dan Indra Ridwan sebagai pembicara dan Rosyid E Abby sebagai moderator. Diskusi sendiri membicarakan tentang bagaimana kondisi musik pop Sunda saat ini.

"Pop Sunda itu sulit didefinisikan. Perkembangannya sangat membanggakan karena sekarang kreatifitasnya semakin tinggi," ujar Indra Ridwan dalam diskusi di Jalan Blk Factory (Banceuy) Kota Bandung, Kamis (28/6/2012).

Meski pengaruh budaya Barat sangat kentara dalam musik pop sunda, tidak boleh menjadi pengaruh dan menggiring ke arah yang negatif. Justru harus dikembangkan dengan kreatifitas yang dimiliki agar menjadi sebuah karya baru.[ang]

Kamis, 17 Mei 2012


TIKA ZEIN Penyanyi, Presenter, Penyuka Soto Bandung

Tika-ZeinBagi penggemar Pop Sunda masa kini, wajah Tika Zein tentu sudah tidak asing lagi. Sejak tahun 2011, Tika menyeruak jagat Pop Sunda lewat lagu “OEAEO” yang dinyanyikannya bersama Barakatak Group. Lagu karya cipta H. Dose Hudaya SH, SE, MH, yang dibalut aransemen beraroma house music, dan dimuat dalam album kompilasi Pop Sunda “Bentang-Bentang” Jilid II produksi DH Production itu, berhasil mengantarkan Tika ke jenjang popularitas.
Jika DH Production, label kondang dari Kota Bandung, merekrut Tika, tentu karena kualitas kepenyanyian yang dimilikinya. “Saya merintis karir nyanyi sejak kelas 3 SMP, dan suka ikut lomba nyanyi,” ungkap putri keluarga Ayi Rukmana dan Titi Rusmiati ini. Jalur yang dipijaknya adalah dangdut. Tika menempa bakat lewat berbagai ajang lomba nyanyi, dan berhasil merenggut sederet prestasi. Dari deretan trofi yang dipajang di rumahnya, nampak bahwa Tika sempat menjadi Juara I “Selendang” (Seleksi Penyanyi Dangdut) TVRI jabar, Juara I “Raja Sawer” Antv, Juara I “Laris Manis” SCTV, Juara I “Cabidut” Lativi, Juara I “Dangdut Mania Dadakan” MNC-TV, Juara I “Tarung Dangdut” MNC-TV, dan Gerbang KDI I (5 Besar Wakil Bandung).
Karir Tika di kancah Pop Sunda terus melaju. Tahun 2012, DH Production kembali menghadirkan Tika dalam album kompilasi “Tembang Bentang Bentang”. Lagu yang didendangkannya bertajuk “Boro-Boro Ngimpi”, dan menjadi salah satu lagu favorit pemirsa acara “Bentang Bentang Top Hits” yang ditayangkan di STV (Bandung) dan “Tembang Bentang Bentang ” yang ditayangkan di TVRI Jabar. “Meski pun saya berkecimpung di jalur dangdut, saya menerima tawaran rekaman Pop Sunda dari DH Production, karena melihat kualitas DH Production yang sangat bagus, baik itu lagunya, video klipnya, promonya, dan hal-hal lainnya. Dan menjadi suatu kebanggaan bisa masuk DH Production. Sebelum bergabung dengan DH Production, saya sempat juga punya mini album nasional, berduet dengan rekan dari KDI. Judul albumnya INEK (Indahnya Nempel Kekasih). Genre musiknya house music dangdut,” papar Tika.
Ada pendapat bahwa dangdut tanpa goyang ibarat sayur tanpa garam, bagaimana tanggapan Tika ? “Sah-sah saja orang mau bilang bahwa dangdut tanpa goyang bagaikan sayur tanpa garam. Tapi tentu goyangnya harus disesuaikan dengan lagu dan tidak berlebihan. Kalau kebanyakan goyang nantinya bagaikan sayur kebanyakan garam, kebayang khan seperti apa rasanya…..hahaha……! Goyang itu hanya bumbu penyedap saja,” jawab Tika yang juga kini melebarkan langkah ke dunia televisi dengan menjadi presenter acara “Studio Dangdut” di PJTV (Bandung). “Alhamdulillah, saya mendapat kepercayaan menjadi presenter. Sambil belajar, siapa tahu di bidang ini pun saya bisa berkembang,” ucapnya sambil tersenyum.
Surabi dan Soto Bandung
Denyut kemajuan pariwisata di Kota Bandung dan sekitarnya pun dirasakan oleh Tika. “Pariwisata di Kota Bandung berkembang pesat. Buktinya banyak wisatawan berkunjung kesini. Lihat saja kalau weekend. Mereka datang karena banyaknya daya tarik pariwisata yang dimiliki Kota Bandung, seperti tempat-tempat wisata, kuliner, dan juga tentunya tempat-tempat belanja seperti FO,” ucap penyanyi yang mempunyai filosofi hidup “syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah”.
Di mata Tika, Kota Bandung mempunyai kekuatan di bidang wisata kuliner. “Kuliner di Kota Bandung beragam sekali dan sangat khas. Tapi saya sendiri paling suka surabi dan Soto Bandung. Dan saya percaya, dua macam makanan ini termasuk yang disukai oleh para wisatawan yang datang ke Kota Bandung…….hahaha……!,” ucap artis yang suka berfesbuk ria dengan nama akun “Tika Zeins Full”. Mau berteman fesbuk dengan Tika? Silahkan di-add .…! (Yosie Wijaya)