href="http://www.widgeo.net">widgeo.net widgeo.net widgets basketball-0007.gif from 123gifs.eu

Follow Us

Rabu, 04 Juli 2012

Musik Pop Sunda Bertahan Lewat Iklan

foto
miller-mccune.com 
Bumenet-BANDUNG:-Walau tergerus pembajakan, album dan lagu-lagu pop Sunda berusaha bertahan. Caranya lewat iklan promosi di televisi dan penjualan paket album. Sebagian penyanyi mengandalkan pentas di pelosok daerah.

Pesatnya kemajuan teknologi dan pembajakan sekarang ini terus merontokkan rantai distribusi penjualan album lagu. Sebuah agen distributor album lagu terbesar di Bandung, CV Tropic, akan tutup usaha pada akhir tahun ini. "Bisnisnya sudah sepi, dirusak sama bajakan juga," kata pemilik CV Tropic, Jenny Liediawati di kantornya, Kamis, 28 Juni 2012.

Perusahaan yang berdiri sejak 1973 itu lebih banyak menjual album-album musik Sunda, dari jenis klasik seperti lagu tradisional Cianjuran sampai pop. "Zaman kaset paling bagus pada 1980-an seperti album Jugala, Kalangkang, dan Sabilulungan," ujar perempuan berusia 58 tahun itu.

Menurunnya angka penjualan album itu mulai terjadi sejak 1998. Makin parah, kata dia, selama 5 tahun terakhir. Karyawannya yang berjumlah 40 orang kini tinggal 10 pegawai karena omzet terus merosot.

Produser lagu Sunda, Dose Hudaya, mengaku khawatir jika agen distributor album lagu Sunda terus tutup, apalagi yang terbesar seperti CV Tropic. "Bagaimana bisnis musik Sunda berkembang kalau mereka tutup," ujarnya. Lewat perusahaannya DH Production, ia membuat terobosan penjualan paket 8 album lagu Sunda sekaligus seharga Rp 75 ribu dan beriklan video klip lagu Sunda di televisi lokal.

Penjualan album Bentang-Bentang jilid 1 dan 2 misalnya, selama 3 tahun terakhir berjumlah 100 ribu keping VCD. Walau begitu, album tersebut juga dibajak. Selain mengandalkan kebijakan pemerintah untuk memberantas pembajakan lagu, Dose yang juga pembuat lagu dan pengacara itu berharap masyarakat mematikan pembajakan. "Caranya dengan hanya membeli album lagu asli," ujarnya.

Sementara itu, dosen dan peneliti lagu pop Sunda dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, Indra Ridwan mengatakan, lagu pop Sunda sudah terkenal di sejumlah negara seperti Belanda, Jerman, dan Jepang sejak 1936 hingga 1980-an. Kepopulerannya kini terancam oleh masyarakat sendiri yang lebih menyukai album lagu bajakan karena harganya lebih murah.

Sejauh ini, kata penyanyi pop Sunda Nining Maida, belum ada jalan keluar yang menyelematkan nasib penyanyi, musisi, dan produser. Nining yang masih menghasilkan lagu-lagu pop Sunda baru dan memproduksinya sendiri, masih menelan kekecewaan. "Begitu dikeluarkan langsung dibajak, saya nggak tahu harus bagaimana ke depan," ujarnya.source:http://www.tempo.co/read/news/2012/06/29/112413655/Musik-Pop-Sunda-Bertahan-Lewat-Iklan

Lagu Pop Sunda Alami Kemunduran

Kamis, 28 Juni 2012 18:10 WIB
BANDUNG, TRIBUN - Pengamat, produser dan artis pop Sunda mengakui sekarang ini bisnis lagu pop Sunda mengalami kemunduran. Hal itu terungkap dalam diskusi Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda di Kantor Redaksi Galura, Jalan Belakang Factory 2A, Banceuy Permai, Bandung, Kamis (28/6).

"Jaya-jayanya musik pop Sunda itu sekitar tahun 90-an. Saat itu produsernya saja ada sampai 10-an. Tapi sekarang, hanya tinggal saya sendiri," tutur H Dose Hudaya, pencipta dan produser rekaman dengan bendera DH Production yang menjadi salah seorang pembicara pada diskusai itu.

Menurutnya eksistensi produser lain makin menghilang satu persatu terutama setelah munculnya masa krisis bisnis musik pop sejak tahun lalu. Bahkan krisis ini juga dirasakan oleh lagu pop Indonesia.

"Untuk lagu pop Sunda menurut saya masih lebih baik dibanding pop Indonesia. Karena pop Indonesia itu penjualannya hanya mencapai 2 sampai 3 ribu keping, sedangkan pop Sunda masih di atasnya," jelas Dose yang belum lama ini mengeluarkan rekaman Tembang Bentang-bentang.

Krisis tersebut diakui Dose muncul karena berbagai faktor. Mulai dari faktor idealisme yang dimiliki setiap produser, kondisi pasar yang semakin modern yang di dalamnya muncul pula para pembajak dan makin beragamnya musik-musik luar yang bisa dikonsumsi masyarakat.

Pengamat musik pop Sunda, Indra Ridwan yang sekarang ini sedang menggarap disertasi tentang musik pop Sunda di University of Pittsburgh
Amerika, mengatakan untuk mengukur kesuksesan bisnis musik pop Sunda itu jangan membandingkan dengan album Kalangkang dengan artis Nining Meida yang mencapai 3 juta keping lebih penjualannya. Karena untuk album ini jelas memiliki faktor lain yang menurutnya belum banyak digali tentang latar belakang kesuksesannya.

"Tapi menurut saya pada lagu Kalangkang itu memang ada kesatuan yang utuh antara penyanyi dan lagunya yang karya pak Nano S itu. Sedangkan jika melihat lagu pop Sunda ini sejak muncul hinggga sekarang menurut saya masih tetap, tidak pernah kehilangan penggemar," katanya.

Sementara artis pop Sunda, Rika Rafika mengatakan sekarang ini banyak artis dan seniman pop Sunda yang merasakan sulit berkembang karena banyak produser yang kesulitan finansial. Semakin sedikitnya produser rekaman, menjadikan para artis dan seniman kurang mendapat tempat untuk mengsplorasi kreatifitasnya. (*)

Penulis : ddh
Editor : dar

Astria

minggu, 01 juli 2012 00:38 WIB
Pakai Hati
CANTIK, muda, dan bersuara merdu. Lewat kepiawaiannya bersenandung, wanita kelahiran Bandung, 8 Mei 1991 ini selalu sukses menarik perhatian para pendengar musik. Maklum saja darah seni yang dimilikinya, mampu mengantarkan mojang yang akrab disapa Astria ini ke jalur musik sejak kecil.

Bahkan tak hanya eksis sebagai penyanyi Sunda, Astria juga lihai mebawakan musik beraliran pop rock. Menurutnya sejak awal muncul dirinya memang terlebih dahulu dikenal sebagai penyanyi pop. Namun setelah ia mengikuti audisi yang digelar salah satu rumah produksi ternama saat itu di mana mencari bakat-bakat penyanyi dijalur pop Sunda, bermodalkan suara merdunya ia pun lulus audisi. "Dari sanalah saya mulai eksis di pop Sunda," katanya saat ditemui di kantor Galura, belum lama ini.

Dengan tegas ia pun mengaku tak malu dirinya harus menyanyikan lagu-lagu Sunda. Padahal dengan penampilannya yang begitu cantik rasanya tak ada yang percaya jika wanita yang murah senyum ini adalah penyanyi Sunda. "Lagu Sunda sekarang kan lebih modern, berbeda dengan pop Sunda zaman dulu. Makanya saya sih santai-santai saja, malah bangga bisa ikut melestarikan musik pop Sunda," katanya.

Bahkan sekarang, ia tengah sibuk dengan promo lagu Sunda remix yang digarapnya bersama almarhum Darso. Bisa dibilang single Sunda remix berjudul "Cinta Urang Duaan" mulai mendapat perhatian para penikmat musik. "Lagunya tersebar di Youtube atau dunia maya, dan alhamdulillah responnya cukup bagus. Yang pasti sudah pake hati," jelasnya lagi.

Dan untuk undangan menyanyi pun ia menegaskan dirinya tak pernah khawatir sepi orderan. Pihak yang mengundangnya sebagian besar memintanya melantunkan tembang-tembang Sunda. "Bangga dong bisa ikut meramaikan dan melestarikan musik Sunda," tegasnya.

Ketika ditanya mana jalur yang akan dipilihnya, ia pun dengan malu-malu mengatakan suka dua-duanya. Malahan tidak lama lagi akan mulai menggarap single terbaru untuk musik pop bersama musisi-musisi ternama. "Tapi belum bisa dibocorkan, yang pasti untuk karya terbaru saya menciptakan karya sendiri," kata pelantun lagu "Dilema Cinta Segitiga", "Taukah Kamu", dan "Kecewa Aku Biasa" ini.

Ke depan ia pun telah menyiapkan karya-karya yang diharapkan bisa diterima masyarakat luas. "Kalau bisa tak hanya bisa nyanyi, saya juga lagi mempelajari banyak proses penggarapan musik itu seperti apa. Malahan juga untuk gambaran proses pemasarannya juga seperti apa. Ya itung-itung belajar mumpung masih muda. Siapa tahu ke depan bisa eksis di belakang layar juga," ujarnya.
(tri widiyantie/"GM")**

Wina Ingin D'hebring Lahir Kembali

selasa, 03 juli 2012 00:57 WIB
 
ERA tahun 1990-an, D'hebring sukses menggebrak musik pop Sunda. Kelompok vokal yang terdiri atas empat mojang belia itu mendapat sambutan positif. Namun kejayaan mereka terhenti di tahun 1994 karena masing-masing personelnya disibukkan oleh rutinintas mereka di luar musik.

Kendati demikian, nama D'hebring masih melekat di hati para penggemarnya. Hal itu dirasakan salah satu personel D'hebring yang hingga kini masih eksis di dunia tarik suara, namun memilih jalur solo karier, yaitu Wina.

Ditemui di kediaman, kawasan Cibiru, Kota Bandung, Senin (2/7), Wina mengaku bangga bisa menjadi bagian dari D'hebring. "Aku betul-betul bersyukur diberi kesempatan untuk bertemu dengan 3 personel lainnya untuk membentuk D'hebring. Pada masa itu kita tidak menyangka bisa menuai ketenaran yang seolah sulit untuk hilang dari ingatan para penggemar D'hebring," paparnya.

Ia menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan salah seorang fans D'hebring, yang tanpa sengaja menjadi penata riasnya saat ada acara manggung. Padahal saat Wina "tenar", penata rias tersebut masih kecil. "Sekarang dia udah gede dan jadi make-up artist, pas lagi seneng-senengnya sama D'hebring dia masih kecil katanya. Ya, aku banggalah nama D'hebring masih dikenang," tuturnya.

Banyak rezeki yang didapat Wina dari D'hebring selain ketenaran. Bersama Rima, Yosi, dan Mila, ia banyak belajar tentang musik dan kebersamaan, berjuang memberikan karya terbaik bagi penikmat musik. Dan itu terlihat dari genre musik D'hebring yang memiliki karakter berbeda. "Banyak alasan kenapa D'hebring disukai banyak pendengar. Kata orang sih di samping genre lagunya yang beda, D'hebring juga memiliki ciri khas dari kostumnya yang unik," jelasnya.
(tri widiyantie/"GM")**

Kualitas Musik Pop Sunda Menurun

jumat, 29 juni 2012 01:18 WIB

Harus Ada Pemahaman Standardisasi

 
SAAT ini kualitas musik pop Sunda mengalami penurunan yang cukup tajam dibandingkan era tahun '90-an. Pada tahun itu para produser bisa dibilang memiliki standar penilaian, mana yang layak dan tidak. Sedangkan saat ini karya-karya lagu pop Sunda yang dilempar ke pasaran, tidak lagi memikirkan kualitas musik itu sendiri.

Demikian diungkapkan Dose Hudaya pada diskusi "Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda" di kantor Redaksi Galura, Kamis (28/6). Dikatakan, tahun '90-an kualitas musik pop Sunda juga dapat terjaga karena sumber daya manusia (SDM) yang terpelajar. Artinya, sekarang ini orang yang tidak bisa menyanyi saja bisa eksis untuk menjadi penyanyi, dan orang yang tidak bisa membuat musik bisa terkenal menjadi pembuat musik. "Istilahnya asal punya uang sekarang orang bisa jadi artis," tandas Dose.

Potret demikian, lanjutnya, cukup baik jika hanya untuk menyemarakkan musik pop Sunda. Namun kalau untuk menjadi indikator perkembangan akan kualitas musik pop Sunda, itu apa bisa dikatakan layak. "Apa kita sebagai warga Sunda tidak malu?" katanya.

Untuk itu, menurut Dose harus ada pemahaman tentang standardisasi yang layak dalam pencitraan musik Sunda. Meski diakuinya di satu sisi produser sendiri saat ini sedang tiarap sehingga akhirnya bermunculan produk yang pegiatnya bukan orang yang bisa menyanyi atau membuat musik.

"Jika kondisi ini dibiarkan, bagaimana nasib musik pop Sunda ke depannya. Maka salah satu solusi yang kerap dilakukan para pegiat seni khususnya pop Sunda, antara lain dengan menggelar beberapa acara audisi untuk menemukan para penyanyi berbakat yang betul-betul berpotensi, tidak hanya ingin eksis semata. Hasil saringan audisi tersebut dilanjutkan dengan proses pembuatan karya yang dilempar ke pasaran. Nah untuk hasilnya, biarkan masyarakat yang menilai, mana karya yang layak untuk diapresiasi atau tidak," jelasnya.

Peran media

Senada dengan Dose, praktisi dan artis pop Sunda, Rika Rafika mengatakan merasa miris ketika banyak karya yang ada hanya asal jadi. Namun perlu diakui bermunculannya lagu-lagu pop Sunda, meski hanya asal jadi ini, menambah semarak musik pop Sunda.

"Oleh sebab itu, salah satu caranya harus ada standardisasi, juga di media untuk penyanyi yang akan dimunculkan. Pihak media bisa membuat beragam program untuk membedakan mana penyanyi pop Sunda yang kalitasnya bisa diperhitungan di antara penyanyi-penyanyi legendaris, dan mana penyanyi yang baru muncul. Dengan begitu masyarakat akan mulai tergiring untuk tidak langsung menilai, jika perkembangan kualitas musik pop Sunda mulai menurun," ungkapnya.

Meski diakuinya, media tidak bisa membatasi mana yang layak tampil atau tidak, karena semua orang punya hak untuk tampil. "Karena itu disiasati lewat program atau rubrik yang diangkat," tegasnya.

Berbeda dengan Dose dan Rika, praktisi musik pop Sunda Indra Ridwan mengatakan, bukan hanya media yang memiliki peran untuk mengantarkan mana musik yang berkualitas atau tidak. "Karena media sangat membantu untuk sisi pemasaran. Jadi media tak punya andil utama untuk menentukan kualitas musik pop menurun atau tidak di mata masyarakat," tegasnya.

Yang perlu ditekankan di sini terkait perkembangan musik pop Sunda adalah pegiatnya. Mulai dari penyanyi hingga produser harus benar-benar memiliki kecintaan terhadap musik pop Sunda. "Dengan begitu tidak akan ada yang namanya karya asal jadi. Meski akuinya itu sangat sulit," ujarnya.

Indra juga menegaskan, yang perlu menjadi sorotan saat ini adalah perkembangan musik pop Sunda itu sendiri, bukan segi kualitasnya. "Dan yang juga penting dan hingga sekarang belum bisa diselesaikan adalah pembajakan. Kerena hal itu juga memberikan pengaruh besar terhadap pekembangan musik pop Sunda," pungkasnya.
(tri widiyantie/"GM")**

Minggu, 01 Juli 2012

Kemana Lagu Pop Sunda Kiwari

Bandung, varianews.com -- Penyanyi dan lagu Sunda tunbuh subur di tahun 90an. Nama-nama pesohor seperti Nia Daniati, Doel Sumbang dan Hetty Koes Endang, ikut meramaikan blantika musik Pop Sunda. Namun bersamaan berjalannya waktu, penyanyi dan lagu Sunda, kini tak lagi tumbuh.

Pengamat, produser dan artis pop Sunda mengakui sekarang ini bisnis lagu pop Sunda mengalami kemunduran. Hal itu terungkap dalam diskusi Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda di Kantor Redaksi Galura, Jalan Belakang Factory 2A, Banceuy Permai, Bandung, Kamis (28/6).

"Jaya-jayanya musik pop Sunda itu sekitar tahun 90-an. Saat itu produsernya saja ada sampai 10-an. Tapi sekarang, hanya tinggal saya sendiri," tutur H Dose Hudaya, pencipta dan produser rekaman dengan bendera DH Production yang menjadi salah seorang pembicara pada diskusai itu.

Menurutnya eksistensi produser lain makin menghilang satu persatu terutama setelah munculnya masa krisis bisnis musik pop sejak tahun lalu. Bahkan krisis ini juga dirasakan oleh lagu pop Indonesia."Untuk lagu pop Sunda menurut saya masih lebih baik dibanding pop Indonesia. Karena pop Indonesia itu penjualannya hanya mencapai 2 sampai 3 ribu keping, sedangkan pop Sunda masih di atasnya," jelas Dose yang belum lama ini mengeluarkan rekaman Tembang Bentang-bentang.

Krisis tersebut diakui Dose muncul karena berbagai faktor. Mulai dari faktor idealisme yang dimiliki setiap produser, kondisi pasar yang semakin modern yang di dalamnya muncul pula para pembajak dan makin beragamnya musik-musik luar yang bisa dikonsumsi masyarakat.

Pengamat musik pop Sunda, Indra Ridwan yang sekarang ini sedang menggarap disertasi tentang musik pop Sunda di University of Pittsburgh
Amerika, mengatakan untuk mengukur kesuksesan bisnis musik pop Sunda itu jangan membandingkan dengan album Kalangkang dengan artis Nining Meida yang mencapai 3 juta keping lebih penjualannya. Karena untuk album ini jelas memiliki faktor lain yang menurutnya belum banyak digali tentang latar belakang kesuksesannya.

"Tapi menurut saya pada lagu Kalangkang itu memang ada kesatuan yang utuh antara penyanyi dan lagunya yang karya pak Nano S itu. Sedangkan jika melihat lagu pop Sunda ini sejak muncul hinggga sekarang menurut saya masih tetap, tidak pernah kehilangan penggemar," katanya.

Sementara artis pop Sunda, Rika Rafika mengatakan sekarang ini banyak artis dan seniman pop Sunda yang merasakan sulit berkembang karena banyak produser yang kesulitan finansial. Semakin sedikitnya produser rekaman, menjadikan para artis dan seniman kurang mendapat tempat untuk mengesplorasi kreatifitasnya.

Meskipun marak pembjakan,, album dan lagu-lagu pop Sunda berusaha bertahan. Caranya lewat iklan promosi di televisi dan penjualan paket album. Sebagian penyanyi mengandalkan pentas di pelosok daerah.

Pesatnya kemajuan teknologi dan pembajakan sekarang ini terus merontokkan rantai distribusi penjualan album lagu. Sebuah agen distributor album lagu terbesar di Bandung, CV Tropic, akan tutup usaha pada akhir tahun ini. "Bisnisnya sudah sepi, dirusak sama bajakan juga," kata pemilik CV Tropic, Jenny Liediawati di kantornya, Kamis, 28 Juni 2012.

Perusahaan yang berdiri sejak 1973 itu lebih banyak menjual album-album musik Sunda, dari jenis klasik seperti lagu tradisional Cianjuran sampai pop. "Zaman kaset paling bagus pada 1980-an seperti album Jugala, Kalangkang, dan Sabilulungan," ujar perempuan berusia 58 tahun itu.

Menurunnya angka penjualan album itu mulai terjadi sejak 1998. Makin parah, kata dia, selama 5 tahun terakhir. Karyawannya yang berjumlah 40 orang kini tinggal 10 pegawai karena omzet terus merosot.

Produser lagu Sunda, Dose Hudaya, mengaku khawatir jika agen distributor album lagu Sunda terus tutup, apalagi yang terbesar seperti CV Tropic. "Bagaimana bisnis musik Sunda berkembang kalau mereka tutup," ujarnya. Lewat perusahaannya DH Production, ia membuat terobosan penjualan paket 8 album lagu Sunda sekaligus seharga Rp 75 ribu dan beriklan video klip lagu Sunda di televisi lokal.

Penjualan album Bentang-Bentang jilid 1 dan 2 misalnya, selama 3 tahun terakhir berjumlah 100 ribu keping VCD. Walau begitu, album tersebut juga dibajak. Selain mengandalkan kebijakan pemerintah untuk memberantas pembajakan lagu, Dose yang juga pembuat lagu dan pengacara itu berharap masyarakat mematikan pembajakan. "Caranya dengan hanya membeli album lagu asli," ujarnya.(BS-variaseni)

Kemana Lagu Pop Sunda Kiwari

Produk Bajakan Bikin Produser dan Penyanyi Pop Sunda Dilema

Jum'at,   29  Juni  2012  11:30 WIB

Bandung - Produk bajakan seperti CD sudah sulit diberantas. Keberadaannya pun menjadi dilema bagi produser dan penyanyi yang bergerak dibidang musik pop Sunda. Di satu sisi merugikan, tapi di sisi lain menguntungkan.

Dose Hudaya, produser yang bergerak dibidang musik pop Sunda, mengaku ada di posisi serba salah. Misalnya ketika memproduseri penyanyi dan merilis album, ada permintaan berbeda dari pihak yang diajak kerjasama seperti pihak pengusaha RBT dan distributor CD.

Menurutnya ada permintaan berbeda dari dua pihak itu dalam melihat femonena pembajakan. Di satu sisi pengusaha RBT ingin membiarkan produk bajakan tetap laris di pasaran. Sementara distributor CD dengan tegas ingin tak ada produk bajakan yang dijual di pasaran.

"Jadi ada dua persepsi yang berbeda, ada dua kepentingan dalam menyikapi keberadaan produk bajakan ini," kata Dose saat ditemui usai menghadiri diskusi 'Perkembangan Bisnis Musik Pop Sunda' di Kantor Redaksi Galura, Jalan Belakang Factory, Kamis (28/6/2012).

Di mata produser, Dose mengaku ingin mengambil keuntungan dari penjualan album. Namun hal itu sulit karena produk bajakan merajalela. "Persoalan produk bajakan ini juga kembali pada kesadaran masyarakat itu sendiri. Di kita masyarakat lebih menginginkan produk yang murah walaupun bajakn daripada beli produk asli," paparnya.

Penyanyi pop Sunda Rika Rafika mengaku banyak mendapat hal positif dari adanya produk bajakan. Sebab lewat produk bajakan, dirinya jauh lebih dikenal masyarakat. "Apalagi kalau di kampung-kampung, penjualan produk bajakan itu dilakukan door to door dan harganya murah," ucapnya.

Ia senang melihat hal itu karena banyak orang yang bisa mendengarkan lagunya. Namun di sisi lain hal itu jelas sebuah kerugian bagi produser. Sebab seorang penyanyi sulit lepas dari produser, sementara produser mengambil keuntungan salah satunya dari penjualan album.

"Bos company recording atau produser terbentur finansial karena produk bajakan ini. Ini jadi bahan pemikiran bagi kita semua agar bagaimana caranya ke depan musik pop Sunda makin langgeng, makin diminati, tapi masyarakat tidak membeli produk bajakan," tutur Rika.

(ors/tya)